Wahyuningsih: SLB Kekurangan Guru dan Ruang Kelas

MUARA ENIM – Menerima pendidikan adalah hak setiap warga negara, termasuk bagi mereka yang memiliki keterbatasan. Seperti halnya siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kabupaten Muara Enim. SLB ini beralamat di Jalan Mayor Tjik Agus Kiemas SH, Lingkar Kepur-Muara Lawai, Kecamatan Muara Enim.

Saat ini memiliki 97 siswa yang terdiri dari 51 orang murid sekolah dasar (SD), 27 murid sekolah menengah pertama (SMP) dan 19 murid sekolah menengah atas (SMA).

Sementara ini, belum memiliki siswa TK lantaran kekurangan tenaga pengajar. Dimana, guru di sekolah itu sekarang hanya 13 orang. Tujuh diantaranya PNS, sisanya tenaga honorer. Ditambah empat orang pegawai Tata Usaha dan keamanan sekolah.

Walaupun masih kekurangan guru, namun semangat dan ketulusan para pahlawan tanpa tanda jasa itu tampak jelas terlihat pada saat membimbing siswanya yang memiliki keterbatasan tersebut.

Kegiatan Belajar mengajar di SLB Muara Enim

Kegiatan Belajar mengajar di SLB Muara Enim.

“Sulit itu tidak, tapi kita mesti sabar. Jika kita sabar maka kesulitan tersebut akan teratasi,” ungkap Kepala SLB Kabupaten Muara Enim, Wahyuningsih Spd, Selasa (1/3).

Di sekolah itu lanjut Wahyuningsih, sistem belajar yang diterapkan bagi siswa SD-SMP yakni 70 persen akademik dan 30 persen keterampilan. Sedangkan tingkat SMA, 40 persen akademik dan 60 persen keterampilan. “Untuk tingkat SMA keterampilan lebih banyak dibandingkan akademiknya karena dalam waktu dekat siswa ini akan turun ke masyarakat,” tuturnya.

“Anak berkebutuhan khusus di sekolah ini antara lain tunanetra, tunarungu, tunagrahita dan tunadaksa. Sedangkan untuk anak berkebutuhan khusus tunalaras (perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya) belum ada, lantaran siswa di sini masih terbilang normal,” tambahnya.

Lebih jauh dijelaskan Wahyuningsih, siswa SLB Kabupaten Muara Enim selama ini cukup banyak yang berprestasi, tidak hanya di tingkat Provinsi Sumatera Selatan, bahkan hingga ke tingkat nasional. “Di tingkat nasional siswa kita pernah juara memasang tali sepatu dan berjalan di atas balok titian. Sedangkan untuk juara provinsi, sudah banyak juara yang didapat,” paparnya.

Soal fasiitas sekolah, wanita berhijab ini mengatakan, terdapat 10 ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar, gedung workshop bagi siswa praktik keterampilan, perpustakaan, lapangan olahraga dan lain sebagainya.

“Kegiatan belajar, satu guru mengajar 8 siswa sesuai dengan kebutuhan siswa itu sendiri. Misalnya siswa tunarungu dengan tunarungu, dan seterusnya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah menyampaikan mata pelajaran,” jelasnya.

Di sisi lain, meski sudah memiliki 10 lokal belajar, namun Wahyuningsih mengaku masih kekurangan dua lokal lagi, mengingat setiap tahun siswa yang masuk sekolah itu terus meningkat. “Sebenarnya masih banyak fasilitas yang kita butuhkan. Namun sementara ini, lokal belajar yang paling dibutuhkan. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar lebih maksimal,” ungkapnya.

Kedepan, Wahyuningsih berharap, anak berkebutuhan khusus mendapat pengakuan dari masyarakat, sehingga tidak dipandang sebelah mata. “Sebenarnya anak berkebutuhan khusus juga bisa mandiri. Jadi bagi masyarakat yang memiliki anak berkebutuhan khusus tolong di sekolahkan. Sehingga anak ini bisa berkembang serta dapat meringankan beban orang tua dengan kemandiriannya,” tukas Wahyuningsih. (amr)

Wahyuningsih: SLB Kekurangan Guru dan Ruang Kelas,

Rating : 4.62 / 5 dari 13 pengunjung

Berikan vote untuk artikel ini!

Tags:
author

Author: 

Rutinitas kerja di salah satu Bank terkemuka, tidak menyurutkannya untuk tetap menyalurkan hobi jurnalistik di kategori berita Ekonomi, Bisnis, Nasional dan Mancanegara.

Copyright by: